Pernah nggak sih kamu merasa konten yang kamu buat udah niat banget, riset juga, edit juga, tapi engagement masih datar? Di titik itu, saya biasanya nggak langsung nyalahin kualitas isi konten. Saya justru ngecek satu bagian yang sering disepelekan, yaitu hook kontennya, apakah rumus hook konten yang sudah saya terapkan itu sesuai dengan isi konten dan minat audiens?
Daftar Isi:
ToggleKenapa sih harus sampai mikirin rumus hook konten segala? Karena rumus hook konten itu ibarat pintu masuk, kalau pintunya nggak bikin orang pengin masuk, sekeren apa pun isi rumahnya ya orang tetap lewat. Makanya saya pengin kamu ngerti rumus yang biasa dipakai buat hook konten, karena rumus ini ngebantu kamu “mengunci” perhatian audiens di 3 detik awal, dan rumus hook konten juga bikin proses bikin konten jadi lebih cepat, lebih terarah, dan nggak pakai tebak-tebakan lagi. Yuk, langsung praktikkan rumusnya!
Rumus Hook Konten
Rumus untuk membuat hook konten itu pada dasarnya pola pembuka yang sudah terbukti bisa “menginterupsi” atau “menghentikan” kebiasaan scroll audiens. Kamu nggak harus selalu jadi orang paling lucu atau paling dramatis, yang kamu butuhkan adalah struktur yang bikin audiens merasa: ini relevan, ini penting, atau ini bikin penasaran bagi audiens.
Kelebihannya dari penggunaan rumus ini adalah, kamu bisa lebih konsisten dalam membuat hook. Saat ide lagi seret atau waktu mepet, kamu tetap bisa bikin opening yang tajam tanpa harus overthinking. Dan kabar baiknya, mayoritas rumus di bawah ini gratis karena yang kamu butuhkan cuma kemampuan merangkai kalimat + pemahaman audiens.
1) Pertanyaan Menohok

Rumus hook konten ini paling aman dan paling sering kepake karena manusia dasarnya kepo. Tapi bukan sekadar nanya “gimana caranya…?” yang generik. Kuncinya adalah, pertanyaannya harus menusuk pengalaman audiens atau mematahkan asumsi mereka. Dengan rumus pertanyaan, kamu mengajak audiens “ngobrol” di kepala mereka sendiri, jadi mereka berhenti scroll karena otaknya keburu ikut jawab. Beberapa template yang bisa kamu pakai:
- “Kamu juga ngerasa [problem] padahal udah [usaha]?”
- “Kenapa [hasil yang kamu mau] nggak kejadian walau kamu udah [aksi yang umum]?”
- “Kalau kamu masih [kebiasaan], pantes aja [konsekuensi]”
- “Apa yang bakal terjadi kalau kamu stop [kebiasaan A] selama 7 hari?”
Tips sedikit dari saya biar hook-nya nggak jadi basa-basi: sebutkan satu detail spesifik yang relatable. Misalnya bukan “konten sepi”, tapi “view mentok 300 padahal udah upload tiap hari”.
2) Statistik atau Fakta Mengejutkan
Kalau kamu butuh hook yang terasa “berbobot”, rumus yang bisa kamu gunakan adalah yang berbasis angka, itu ampuh banget! Audiens suka data karena kelihatan objektif, dan angka itu secara visual gampang “nendang” di awal. Tapi ingat, jangan asal ngarang angka. Kalau kamu nggak punya sumber kuat, kamu bisa pakai versi yang lebih aman, misalnya data dari pengalaman sendiri (hasil eksperimen kontenmu) atau pakai framing “di pengalaman saya” agar tidak terkesan klaim universal.
Rangka rumus hook konten ini biasanya seperti:
- Angka + dampak + konteks singkat + janji isi
- Fakta yang “melawan kebiasaan” + pertanyaan lanjutan
Contoh pola:
- “Saya ganti 1 kalimat di opening, retention naik dari [X] ke [Y]. Ini yang saya ubah.”
- “Kebanyakan orang gagal di [hal] bukan karena malas, tapi karena salah di bagian ini.”
Kalau kamu main di konten edukasi, ini salah satu rumus untuk hook konten yang paling cepat bikin audiens percaya untuk lanjut.
3) Hook Kontroversial yang Aman

Kontroversi itu pedang bermata dua. Tapi kalau kamu mainnya rapi, rumus hook kontroversial ini justru bisa bikin audiens stop scrolling karena ada “gesekan” opini. Kuncinya adalah, kontroversial bukan berarti nyerang orang atau bikin hoaks. Yang aman adalah mematahkan mitos, mengkritik kebiasaan umum, atau ngasih sudut pandang baru, lalu kamu jelasin alasannya.
Rumus ini biasanya:
- Pernyataan berlawanan + alasan singkat + ajakan lihat penjelasan
- “Bukan A yang bikin X, tapi B” + hint bukti
Template yang bisa kamu adaptasi:
- “Kerja keras itu bukan masalahnya. Masalahnya kamu kerja keras di bagian yang salah.”
- “Konsisten upload tiap hari belum tentu bikin growth kalau kamu salah di hook.”
Dengan rumus seperti ini, engagement komentar biasanya naik karena orang pengin setuju/ngelawan. Kamu tinggal pastikan isi kontenmu menjelaskan dengan tenang biar trust nggak hancur.
4) How-To Super Cepat
Kalau audiens kamu suka hal praktis dan simple, rumus hook konten how-to itu kayak “tanda jalur cepat”. Mereka langsung tahu kontenmu punya manfaat. Tapi saya saranin jangan janji yang terlalu bombastis. Lebih baik spesifik dan realistis, karena ini lebih “aman” dan bikin audiens betah. Menggunakan rumus ini adalah dengan cara:
- “Cara [hasil] dalam [waktu] tanpa [hambatan umum]”
- “3 langkah biar [hasil] meski kamu [kondisi audiens]”
- “Kalau kamu mau [hasil], mulai dari sini dulu.”
Contoh penerapan:
- “Ini cara bikin opening video yang langsung bikin audiens stop scrolling, bahkan kalau kamu nggak pede ngomong.”
Kalau kamu bikin carousel, rumus ini cocok banget jadi slide 1.
5) Storytelling Teaser

Orang suka cerita, tapi sekarang zamannya orang suka scrolling dengan cepat sehingga kamu nggak bisa bikin opening yang terlalu panjang. Makanya rumus hook tipe storytelling versi pendek itu formatnya “teaser”, bukan cerpen. Kamu kasih potongan yang bikin penasaran, lalu tahan payoff-nya di tengah konten. Rumusnya seperti:
- “Dulu saya [kondisi buruk]. Saya kira solusinya [A]. Ternyata saya salah.”
- “Saya hampir berhenti bikin konten gara-gara [kejadian], sampai saya nemu ini.”
- “Ada satu momen yang bikin saya sadar: [kutipan/kejadian], dan itu ngubah cara saya bikin konten.”
Yang bikin rumus ini kuat adalah emosi dan transformasi. Cocok buat niche personal branding, edukasi, self-improvement, atau bisnis yang butuh trust.
6) PASO 3 Detik
Kalau rumus yang ini adalah teknik 3 detik pertama yang mengandalkan elemen emosional/visual kuat. Saya setuju bahwa di video pendek, rumus hook konten bukan cuma kalimat, tapi juga visual sebagai pembukanya. Jadi formatnya gabungan, seperti apa yang terlihat + apa yang terdengar/tertulis.
Cara pakainya biar praktis:
- Mulai dengan visual yang “nggak biasa” atau hasil akhir (before-after)
- Kalimat pertama langsung menyebut pain/goal audiens
- Potong jeda, jangan kebanyakan filler
Contoh struktur:
- Visual: layar analytics naik / before-after desain / hasil masakan jadi
- Teks/ucapan: “Kalau view kamu mentok segini, kemungkinan kamu salah di 1 hal ini.”
Rumus hook seperti ini terlihat mudah, tapi kamu butuh belajar cara mengeksekusinya dengan cepat: shooting yang to the point, cut yang rapat, dan teks yang kebaca.
7) HSO (Hook-Story-Offer)

Rumus Hook-Story-Offer itu cocok banget kalau kamu jualan (produk, jasa, kelas, affiliate), tapi tetap bisa dipakai untuk konten edukasi. Yang saya suka dari rumus hook satu ini, atau kita sebut HSO adalah alurnya natural. Kamu stop scroll, kamu bikin orang merasa “ini gue banget”, baru kamu kasih ajakan.
Strukturnya:
- Hook: ganggu scroll dengan pain/keingintahuan
- Story: ceritain konteks dan transformasi singkat
- Offer: ajakan yang jelas (download, DM, klik link, coba template)
Contoh hooknya:
- Hook: “Capek bikin konten tapi nggak ada yang nonton?”
- Story: “Saya dulu juga gitu, sampai saya fokus benerin opening dan durasi 5 detik pertama.”
- Offer: “Kalau kamu mau, saya bikinin 10 contoh rumus hook konten untuk niche kamu—komen ‘HOOK’.”
Ini salah satu rumus hook yang paling “convert” kalau kamu konsisten menggunakannya
8) FOMO yang Nggak Norak
FOMO itu ampuh, tapi banyak yang jatuhnya lebay. Biar aman, kamu bikin urgensi yang masuk akal, misalnya tren, perubahan fitur, kebiasaan audiens yang lagi bergeser, atau momen musiman. Rumus hook untuk konten FOMO yang elegan itu bikin orang mikir “wah gue telat nih”, bukan “ih clickbait”.
Template:
- “Kalau kamu masih [cara lama], kamu bakal ketinggalan di [perubahan baru].”
- “Sebelum [momen], ini yang perlu kamu siapin biar nggak panik.”
- “Ini kesalahan yang bikin banyak orang gagal di awal, dan kamu masih punya waktu benerin.”
Pakai seperlunya, jangan tiap konten, biar efeknya tetap kerasa.
9) Humor yang Relate

Humor itu bukan soal jadi pelawak, tapi soal “observasi yang jujur”. Rumus hook konten humor yang kuat biasanya datang dari penderitaan kecil sehari-hari content creator: view sepi, revisi client, overthinking, atau capek ngedit. Saat audiens ketawa karena relate, mereka otomatis berhenti scroll.
Formatnya bisa:
- Self-deprecating (ngeledekin diri sendiri)
- Situasi absurd tapi nyata
- Punchline cepat lalu lanjut ke isi
Contoh pola:
- “Saya kira bikin konten itu yang susah idenya… ternyata yang susah: konsisten pas capek.”
Kuncinya adalah jangan menghina audiens. Mending kamu yang jadi “korban” bercandanya.
10) Rumus Hook Konten Checklist atau “Kamu Termasuk Nggak?”
Ini rumus hook konten yang bagus buat edukasi dan diagnostic content. Audiens suka ngecek diri sendiri. Jadi kamu kasih daftar gejala/tanda, mereka ngerasa terpanggil buat lanjut. Template:
- “Kalau kamu ngalamin 3 hal ini, berarti [kesimpulan].”
- “Tanda kamu butuh benerin hook video kamu: …”
- “Kamu termasuk tipe [A] atau [B]? Ini bedanya.”
Kamu bisa bikin versi pendek untuk video, atau versi panjang untuk carousel.
Intinya, rumus hook konten itu bukan trik manipulatif, tapi sistem biar konten kamu kebaca dan dikasih kesempatan sama audiens. Kamu boleh punya ide brilian, tapi kalau opening kamu lemah, ide itu nggak sempat sampai ke kepala orang. Jadi saya pengin kamu mulai ngumpulin rumus hook konten yang paling cocok buat niche kamu, lalu biasakan bikin 5–10 variasi hook dulu sebelum nulis script atau ngedesain slide. Dengan begitu, kamu kerja lebih cepat, lebih tepat, dan lebih aman dari jebakan clickbait.
Dan kalau kamu serius mau produksi konten dengan workflow yang sat set (nulis, editing, riset, buka banyak tab, sambil render), perangkat yang kamu gunakan juga ngaruh. Buat laptop yang enak dibawa kerja dan rasanya “workhorse”, ASUS ExpertBook P3 (P3405) menarik karena bobotnya sekitar 1,36 kg, layarnya 14 inci rasio 16:10 WUXGA yang lega buat timeline dan naskah, plus opsi prosesor Intel Core i5/i7 H-series dan RAM DDR5 yang bisa di-upgrade sampai 64GB.
Harganya juga biasanya sekitar Rp 11 jutaan sampai Rp 12 jutaan tergantung varian. Jadi pas kamu lagi ngebut nyusun rumus hook konten, eksekusinya juga nggak ketahan gara-gara perangkat ngelag. Siap ngonten pakai semua rumus di atas?












